Prestasi SMADA

GURU SMAN 2 DEPOK JUARA TINGKAT NASIONAL

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa saya Asep Panji Lesmana, seorang guru muatan lokal Bahasa Sunda akan terpilih menjadi Duta Rumah Belajar (DRB) Terkreatif Nasional Tahun 2019. Ini artinya saya menjadi 3 besar DRB dari berbagai provinsi se-Indonesia. Persaingan yang sangat ketat tidak hanya terjadi ketika mencapai level 4 Nasional. Namun semenjak dari level 1 (literasi), level 2 (implementasi), dan level 3 (kreasi) persaingan juga dirasakan sudah sangat ketat. Bahkan di level 3 kami dipertemukan dalam sebuah pelatihan. Disitulah terlihat jelas bagaimana keseriusan 30 orang yang lolos ke level 3 ini. Baik dalam hal kemampuan membuat video pembelajaran maupun kemampuan melakukan sosialisasi rumah belajar.

Di Jawa Barat sendiri pelatihan level 3 dilakukan selama kurang lebih 3 hari secara tatap muka. Setelah itu diberikan waktu kira-kira 14 hari untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Tugas-tugas tersebut antara lain: membuat sebuah video pembelajaran, sosialisasi pemanfaatan rumah belajar, dan melakukan pembelajaran inovatif menggunakan fitur rumah belajar. Tugas yang cukup  berat itu harus diselesaikan dengan waktu yang singkat.

Pembagian waktu dalam pengerjaan tugas memang sangat diperlukan untuk menyelesaikan semua tugas-tugas tersebut. Karena bagaimanapun setiap bagian dari tugas tadi tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan. Terutama jika kita mengharapkan untuk masuk ke tahapan selanjutnya.

Hal yang pertama saya lakukan adalah membuat video pembelajaran untuk kemudian melakukan editing dengan cepat dan efektif. Dalam tahapan ini pastinya ada keinginan membuat video sesempurna mungkin dan itulah juga yang terkadang menjadi beban, karena sangat ketakutan video yang saya buat itu tidak maksimal. Namun seiring berjalannya waktu dan kesungguhan, akhirnya saya bisa menyelesaikan video itu dalam kurun waktu seminggu.

Dalam waktu seminggu itu sebenarnya saya tidak hanya menyelesaikan video. Walaupun fokus pengerjaan adalah menyelesaikan video pembelajaran, namun di sela-sela waktu mengajar, saya juga melakukan sosialisasi kepada seluruh siswa yang saya ajar. Sosialisasi rumah belajar yang dilakukan kepada siswa sendiri ternyata lebih mudah. Kebanyakan dari mereka mau untuk mengunduh aplikasi rumah belajar. Bahkan banyak diantara mereka memberikan masukan kepada saya untuk lebih mempromosikan Rumah Belajar dan saya sendiri yang sedang berpromosi untuk menjadi duta rumah belajar. Di sebuah kelas ada yang memberikan ide membuat boomerang dan diunggah ke Instagram dan di kelas lain ada yang inisiatif membuat video singkat tentang dukungan mereka ke saya untuk menjadi duta rumah belajar.

Target sosialisasi di lingkungan internal sekolah benar-benar saya manfaatkan secara maksimal. Setiap kelas saya wajibkan siswanya untuk mendaftar di rumah belajar. Semuanya itu tidak hanya diucapkan secara lisan, namun juga siswa menuliskan user name rumah belajar yang dimiliki pada daftar yang sudah saya siapkan. Selain itu saya juga melakukan pendekatan kepada kepala sekolah tentang sosialisasi rumah belajar ini dan respon dari kepala sekolah sangat bagus, bahkan beliau mendorong saya untuk mepromosikan rumah belajar di dalam beberapa kegiatan sekolah. Selain itu kepala sekolah saya juga mendampingi secara langsung ketika saya memberikan sosialisasi rumah belajar kepada guru-guru.

Setelah seminggu pertama dilewati saya sudah menyelesaikan sebuah video pembelajaran, cara mengajar inovatif, dan sebagian sosialisasi yang dilakukan kepada internal sekolah. Kemudian di minggu kedua atau di minggu terakhir saya lebih gencar untuk melakukan sosialisasi rumah belajar. Hal yang saya lakukan pada minggu ini adalah mengundang seluruh guru Bahasa Sunda SMA se-kota Depok untuk melaksanakan MGMP. Kebetulan saya adalah guru Bahasa Sunda dan juga ketua MGMP Bahasa Sunda SMA Kota Depok jadi bisa bertindak cepat ketika ingin mengumpulkan guru-guru. Isi dari pertemuan MGMP tersebut adalah mensosialisasikan rumah belajar dan fitur-fitur yang ada di dalamnya. Alhamdulilah guru-guru Bahasa Sunda di kota Depok sangat tertarik dengan rumah belajar apalagi setelah saya perlihatkan sebuah contoh video pembelajaran Bahasa Sunda.

Selang beberapa hari saya juga  berinisiatif untuk menghubungi ketua MGMP Bahasa Sunda SMP untuk menawarkan diri melakukan sosialisasi rumah belajar. Alhamdulilah ini juga direspon dengan sangat baik. Saya dipersilkahkan untuk mengisi jam MGMP Bahasa Sunda SMP. MGMP SMP ini juga sangat baik merespon Rumah Belajar bahkan kami membentuk grup Whatsapp Rumah belajar untuk berkoordinasi dan mencari materi elearning apa lagi yang bisa diberikan pada saat MGMP atau pada pertemuan-pertemuan lainnya.

Waktu yang disediakan selama 14 hari ini memang sangat kurang apabila saya melihat potensi-potensi sekolah yang bisa dikunjungi. Namun apalah daya waktu dan tentunya kesibukan saya sebagai guru juga yang membuat saya hanya bisa melakukan sosialisasi tatap muka di lingkungan terdekat dan MGMP. Namun bukan berarti sosialisasi hanya berhenti sampai disitu saja. Sosialisasi melalui jejaring sosial dan website masih terus dilakukan.

Target pertama sosialisasi rumah belajar online adalah melalui jejaring Instagram. Ini dilakukan untuk menyasar kalangan muda yang mayoritas menggunakan apilikasi ini. Caranya adalah dengan membuat sebuah postingan yang mempromosikan saya untuk menjadi duta rumah belajar dan saya meminta seluruh siswa yang saya ajar untuk memberikan likes pada postingan tersebut. Dari sebanyak kurang lebih 1000 siswa hampir setengahnya memberikan likes pada postingan tersebut. Saya juga menyebarkan link dari postingan Instagram tadi ke berbagai grup Whatspapp guru seperti pada grup sekolah, MGMP kota, MGMP provinsi, ikatan budaya Sunda, dan masih banyak lagi. Selain itu saya memperkuatnya dengan melakukan promote Instagram ads. Hasilnya luar biasa kira-kira 1200 likes telah didapatkan melalui berbagai cara tadi.

Selain Instagram saya juga menulis perjalanan menjadi selama mengikuti seleksi  duta rumah belajar di sebuah website berbayar beralamat dutadiary.com. Sebuah web pribadi yang saya buat semenjak dari Level 3, ketika saya pun tidak tahu apakah kelak menjadi Duta Rumah Belajar. Selain web itu juga saya memiliki saluran Youtube ASPAL EDU, Facebook, dan Twitter yang semuanya itu secara bersamaan mempromosikan rumah belajar baik melalui tulisan, foto, dan video.

Seluruh cara baik secara online maupun offline dilakukan dengan maksimal hingga semuanya itu dilaporkan dalam sebuah laporan tertulis serapi dan sedetail mungkin. Seluruh dokumen seperti daftar hadir, daftar user name rumah belajar siswa, foto, insight Instagram, traffic web dan Facebook tidak lupa saya lampirkan hingga total laporan mencapai lebih dari 100 halaman. Laporan itulah kiranya yang menjadi pertimbangan bagi Pustekkom untuk memilih saya lolos ke Level 4 dan menjadi DRB 2019.

Di Level 4 memang kita sudah dipastikan akan menjadi DRB Nasional, namun ternyata pada saat hari pertama diklat ini juga sudah tercium aroma seleksi. Dimana kami disodori tes tertulis dan setelah itu ditentukan sebanyak 10 orang yang lolos untuk melanjutkan ke tahapan wawancara. Badan saya kaget dan bergetar ketika pada saat itu juga diumumkan lolos menjadi 10 orang tersebut. Sampai di Level 4 saja sudah lebih dari cukup. Namun ternyata saya harus melaju ke tahapan yang lebih tinggi lagi yaitu untuk melakukan tahapan wawancara.

Pada tahapan wawancara ini alhamdulilah saya bisa menjawab semua pertanyaan dengan lancar. Pengalaman saya menjadi seorang blogger dan mempromosikan sesuatu melalui mesan pencari google ternyata sangat bermanfaat disini. Intinya kemampuan memahami internet marketing tentu akan sangat bermanfaat ketika kita akan mempromosikan Rumah Belajar baik dari konsep maupun praktiknya. Setelah proses wawancara selesai akhirnya pengumuman saya menjadi Duta Rumah Belajar Terkreatif Nasional diumumkan pada Malam Anugerah Ki Hajar 2019 di Balai Kartini Jakarta.

Kunjungi juga website partner kami di : https://www.sman2setu.sch.id/

https://www.youtube.com/watch?v=Rjy14lIu_r0

Obrolan